Laman

Sabtu, 15 Juni 2013

TINDAKAN ENDOSKOPI

BAB V
TINDAKAN ENDOSKOPI

Tindakan endoskopi dilakukan oleh tim yang terdiri dari dokter dan perawat, di mana perawat sebagai anggota tim mempunyai peran sebagai berikut : menyiapkan lingkungan/ruangan/alat/obat-obatan, mengobservasi pasien sebelum/pada saat dan sesudah prosedur, mendampingi dokter dalam melakukan tindakan, membersihkan, mendisinfeksi dan menyimpan alat
Perawat ahli endoskopi merupakan perawat ahli/spesialis yang bertujuan untuk memberikan perawatan yang optimal, yang berarti meningkatkan kualitas hidup pasien yang menjalani prosedur endoskopi diagnostic maupun terapeutik. Harmoni ini bisa dicapai dengan berperan sebagai salah satu anggota tim endoskopi yang melakukan asuhan keperawatan berdasarkan kode etik profesi keperawatan, dimana kebutuhan pasien merupakan fokus perhatian utama.
Endoskopi adalah suatu alat yang digunakan untuk memeriksa organ dalam tubuh manusia. Dapat secara visual dengan mengintip menggunakan alat tersebut (rigid/fiber-skop) atau langsung melihat pada layar monitor (skop evis), sehingga kelainan yang ada pada organ tersebut dapat dilihat dengan jelas (Agus Priyanto, 2009, hlm. 13)
Salah satu peralatan endoskopi medical adalah fiberskop di mana bagian dari alat yang masuk kedalam organ bagian dalam tubuh (saluran cerna) berbentuk pipa yang lentur (fleksibel) dan di dalamnya terdapat serat-serat optic yang berfungsi sebagai pemungut gambar serta pembawa cahaya. (Agus Priyanto, 2009, hlm. 13)
Sedangkan tindakan atau pemeriksaan endoskopi pada gastrointestinal adalah suatu pemeriksaan dengan peralatan endoskopi yang dapat menjawab problematika penyakit-penyakit saluran system pencernaan baik pada orang dewasa maupun anak-anak.
Pemeriksaan endoskopi adalah pemeriksaan penunjang yang memakai alat endoskopi untuk mendiagnosis kelainan-kelainan organ di dalam tubuh antara lain saluran cerna, saluran perkemihan, rongga mulut, rongga abdomen, dan lain-lain
Tindakan Endoskopi dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
1.      Gastroskopi
2.      Kolonoskopi
3.      ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography)
A.    Gastroskopi
1.      Pengertian
Esofago-gastro-Duodenoskopi/Gastroskopi adalah suatu pemeriksaan langsung kedalam lambung melalui esofagus sampai ke duodenum dengan memasukkan alat Gastro Intestinal Fiberskop (GIF)
Tindakan Esofago-gastro-Duodenoskopi pada dewasa dan anak-anak prinsipnya sama, hanya pada anak diperlukan seorang ahli anestesi/perawat anestesi
2.      Tujuan
a.       Untuk diagnostic
a)      Untuk menentukan atau menegakkan diagnosis yang pada pemeriksaan radiologi menunjukkan hasil yang meragukan atau kurang jelas
b)      Untuk menentukan diagnosis pada klien yang sering mengeluh nyeri epigastrium, muntah-muntah, sulit atau nyeri tekan. Sedangkan radiologi menunjukkan hasil yang normal
c)      Melaksanakan biopsi atau sitologi pada lesi-lesi di saluran pencernaan yang diduga keganasan
d)     Untuk menentukan sumber perdarahan secara cepat dan tepat
e)      Memantau residif pada keganasan maupun menilai klien pasca bedah
f)       Menentukan diagnosis pada kelaianan pankreatobilier
b.      Untuk terapeutik
a)      Skleroterapi endoskopi (STE) adalah menyuntikkan obat sklerotik melalui endoskopi pada varises esofagus
b)      Ligasi varises esofagus (LVE) adalah pengikatan varises pada esofagus dengan menggunakan peralatan endoskopi
c)      Polipeptomi adalah pengambilan polip pada saluran pencernaan dengan menggunakan peralatan endoskopi
d)     Sfingterotomi adalah melebarkan saluran papilla vateri dengan menggunakan peralatan endoskopi
e)      Dilatasi adalah melebarkan lumen esofagus. Misalnya striktur esofagus pada klien akalasia
f)       Perkutaneus endoskopi gastrostomi (PEG) adalah pemasangan slang untuk pemberian nutrisi ke lambung melalui dinding perut dengan bantuan endoskopi
g)      Untuk pengambilan benda asing (corpus alienum) yang masuk kedalam saluran pencernaan
3.      Indikasi
a.       Pasien dengan gejala nyeri di ulu hati yang menetap dan sudah berlangsung lama
b.      Adanya perdarahan gastrointestinal berupa melena atau hematemesis
c.       Untuk mendapatkan informasi dari kelainan-kelainan yang didapatkan pada pemeriksaan radiologis
d.      Memantau penyembuhan tukak peptic atau kelainan-kelainan lain di lambung/ dan duodenum
4.      Kontraindikasi
a.       Penderita tidak kooperatif atau psikopat
b.      Penderita tidak puasa
c.       Penyakit jantng berat (MCI, gagal jantung berat dapat dilakukan bila didampingi oleh dokter spesialis jantung, peralatan yang lengkap)
d.      Penderita dengan penyakit paru berat
e.       Penderita dalam keadaan syok, koma.
f.       Keadaan sesak nafas
g.      Tumor mediastinum
h.      Stenosis esofagus korosif
5.      Penyulit yang dapat terjadi
a.       Perforasi
b.      Perdarahan
c.       Gangguan kardio pulmonary
d.      Reaksi terhadap obat-obatan
e.       Pneumonia aspirasi
f.       Instrumental impaction
6.      Pesiapan alat
Ø  Monitor Tv
Ø  Procecor
Ø  Sumber cahaya (light source)
Ø  Printer, ribbon dan kertasnya
Ø  Gastrointestinal Fiberskop
Ø  Suction pump
Ø  Aquades
Ø  Forcep biopsy
Ø  Kertas biopsy (kertas saring)
Ø  Botol kecil bertutup berisi formalin 10 %
Ø  Bengkok
Ø  Kassa
Ø  Penyangga mulut (mouth piece)
Ø  Jeli pelumas skop
Ø  Pinset anatomis
Ø  Anastesi local spray (Xylocain spray 10%)
Ø  Spuit 50 cc, 20 cc, 5 cc dan 3 cc
Ø  Sarung tangan steril
Ø  Sarung tangan no steril
Ø  Gunting perban
Ø  Plester
Ø  Kapas antiseptic
Ø  Tiang infus dan peralatan infus lengkap (sesuai kebutuhan)
Ø  Tensimeter dan stetoskop
Ø  Oksigen set
Ø  Pulse Oxymetri
Ø  Unit bedah listrik (elektro surgical unit)
Ø  Snar listrik dan assesoris lainnya
Ø  Unit perlengkapan laser
Ø  Masker sesuai kebutuhan
Ø  Jas dokter sesuai kebutuhan
Ø  Baju tindakan
Ø  Sepatu bot penutup kaki
Ø  Satu set peralatan cuci 3 baskom besar
Ø  Handuk kecil
Ø  Detergen
Ø  Desinfektan tingkat tinggi (DTT)
Ø  Beberapa aksesori sesuai kebutuahan : Injector varises esofagus, Ligator esofagus, Biopsi forcep sesuai jenis skop
7.      Persiapan obat
a.       Penenang (valium, diazepam, dormicum)
b.      Buskopan
c.       Sulvas atropine 0,25%
d.      Xylocain spray 10%
e.       Aquades
8.      Premedikasi
a.       Bila diperlukan sedasi diberikan diazepam IV/IM 5 – 10 mg, pethidin IV 0,5 – 1 mg, atau Dormicum 2,5 – 5 mg IV, (sesuai kebutuhan)
b.      Gascon diberikan per oral 15 cc + Aquadest dengan perbandingan 1:1,5 – 10 menit sebelum pemeriksaan
c.       Xilocaine spray 10 % merata ke seluruh faring sekitar uvula dan hipofaring 5 – 10 menit sebelum pemeriksaan
d.      Oksigen dan Oksimetri
e.       Infus

9.      Sarana Kedaruratan Tingkat standar
a.       Tensimeter dan stetoskop
b.      Infus set, abocath, disposible spuit 3cc; 5cc; 10cc; 20cc; dan 50cc
c.       Selang nasogastrik
d.      OPA
e.       Cairan NaCL 0,9%; D5%; RL; Plasma Expander
f.       Obat-obatan: Adrenalin, Dexamethasone/Kortison, Anti Histamin Parenteral, Sulfas Atropin
g.      Oksigen
h.      Venflon
10.  Sarana Kedaruratan Tingkat Pelayanan lanjutan/terapeutik
a.       Pulse Oxymetri
b.      Set Venaseksi
c.       Kateter
d.      Resusitasi set, Ambu Bag, Endotracheal Tube
e.       Monitor EKG
f.       Somatostatin/Vasopresin/Octreotide
g.      Dopamine
11.  Persiapan pasien
a.       Persiapan umum
a)      Persiapan psikologis
Memberikan penyuluhan atau bimbingan dan konseling keperawatan kepada klien mengenai tujuan, prosedur, dan kemungkinan yang dapat terjadi agar klien dapat membantu kelancaran pemeriksaan endoskopi antara lain dengan mengurangi atau menghilangkan rasa cemas dan takut
b)      Persiapan administrasi
Mengisi surat pernyataan persetujuan tindakan (informed consent) ditandatangani oleh klien atau keluarga dan menjelaskan perihal pelaksanaan administrasi. Hal ini disesuaikan dengan peraturan masing-masing rumah sakit
b.      Persiapan khusus
a)      Puasa tidak makan dan minum sedikitnya 6 jam sebelum pemeriksaan/tindakan endoskopi, kecuali penderita gawat darurat
b)      Gigi palsu dan kaca mata harus di lepas selama pemeriksaan/tindakan endoskopi
c)      Sebelum pemeriksaan/tindakan endoskopi, orofaring disemprot dengan xylocain spray 10% secukupnya
d)     Berbaring dengan posisi miring ke kiri, tangan kiri diletakkan senyaman mungkin dan tangan kanan diatas paha kanan
12.  Tata cara pelaksanaan
a.       Petugas memakai pengaman diri
b.      Menjelaskan ulang kepada pasien/keluarga tentang kegiatan/tindakan yang akan dilakukan
c.       Melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital.
d.      Melepaskan gigi palsu dan kacamata (bila ada)
e.       Menyemprotkan Xylocain 10% ke dalam orofaring
f.       Mamberikan suntikan premedikasi (sulfas atropine 0,25% + buskopan 20 mg, 10 mg diazepam/ sesuai program dokter)
g.      Mengatur posisi pasien tidur dengan posisi miring kekiri, tangan kiri dibawah bantal dan tangan kanan diatas paha kanan dan kaki ditekukkan
h.      Memasang penyangga mulut (mouth piece)
i.        Menghubungkan skop dengan sumber cahaya dan suction kemudian menghidupkan alat
j.        Perawat 1 berdiri dibelakang kepala pasien, bertugas mempertahankan posisi ekstensi kepala pasien dan mempertahankan fiberskop. Perawat 2 berdiri di sebelah kanan dokter
k.      Kemudian perawat 1 memegang/menahan mouth piece agar fiberskop tidak tergigit oleh pasien
l.        Pada saat fiberskop dimasukkan. Perawat mengobservasi/memonitor tanda-tanda vita dan tingkat kesadaran, bila ada perubahan-perubahan yang mengkhawatirkan laporkan pada dokter.
m.    Melakukan suction, bila terdapat slim/air liur banyak
n.      Setelah selesai dokter mengeluarkan fiberskop, perawat mengobservasi pasien sambil melepaskan mouth piece
o.      Pasien dan alat dirapikan
13.  Pasca tindakan
a.       Membersihkan dan merapikan pasien yang telah selesai menjalani tindakan gastroskopi
b.      Memindahkan pasien ke ruang pemulihan
c.       Mengukur dan mencatat tanda-tanda vital : tensi, nadi, pernafasan, suhu diruang pemulihan
d.      Memeriksa tingkat kesadaran pasien dengan cara memanggil nama pasien, memberikan rangsangan, memeriksa reaksi pupil
e.       Bila dipakai anastesi topical penderita di anjurkan untuk tidak makan/minum 1 – 2 jam pasca gastroskopi untuk menghindari aspirasi
f.       Biasanya penderita akan tertidur selama kurang lebih ½ jam dan pada umumnya hampir semua dapat meninggalkan tempat pemeriksaan 1 – 2 jam sesudah gastroskopi dilakukan
g.      Bila diberikan sedasi, pasien harus diobservasi diruang pemulihan sampai kesadaran pulih betul
h.      Pasien berobat jalan harus ada yang mendamping dan diberikan instruksi untuk langsung pulang dan tidak boleh membawa kendaraan sendiri atau mengoperasikan mesin
i.        Bila pasien datang tanpa didampingi oleh keluarga usahakan tidak memakai sedasi atau ditahan lebih lama sampai memungkinkan untuk pulang sendiri
j.        Bila terjadi perdarahan hebat dianjurkan menghubungi perawat secepatnya
k.      Bila dilakukan biopsi, dianjurkan makan makanan cair atau bubur saring selama beberapa waktu tergantung apa yang ditemukan dan berapa banyak biopsi dilakukan. Bila ada perdarahan pasien diminta menghubungi segera perawat
l.        Melakukan serah terima dengan perawat ruang rawat inap
m.    Membersihkan dan membereskan alat
n.      Membuat jadwal pemeriksaan ulang (bila diperlukan, terutama pasien yang mendapatkan tindakan terapy gastroskopi)




B.     Kolonoskopi
1.      Pengertian
Kolonoskopi adalah suatu pemeriksaan kolon atau usus besar (rectum, sigmoid, kolon desenden, kolon transversum, kolon asenden dan sekum) secara langsung dengan memasukkan alat fiberskop kolonoskopi kedalam usus besar melalui anus.
2.      Tujuan
a.       Untuk mengevaluasi kelainan saluran cerna bagian bawah, bila mana hasil pemeriksaan radiologis meragukan atau tidak didapatkan kelainan, sedangkan gejala-gejala penyakit ada
b.      Untuk meneliti lebih lanjut penyakit kolon pada pasien anemia dengan penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya
c.       Untuk menegakkan diagnosa keganasan pada kolon
d.      Untuk pengobatan dan biopsy terminalis
e.       Untuk melakukan follow up sesudah pengangkatan polip atau kanker
3.      Indikasi
a.       Mengevaluasi hasil pemeriksaan radiologis, hematoskesia, diare kronik, konstipasi kronik
b.      Perdarahan per anum
c.       Penyakit peradangan kolon seperti divertikel colitis ulseratif
d.      Dugaan keganasan kolon
e.       Pasca bedah untuk mengevaluasi anastomosis kolon
f.        Anemia defisiensi zat besi yang tidak diketahui penyebabnya.
4.      Kontra indikasi
a.       Pasien tidak kooperatif atau psikopat
b.      Penderita tidak puasa
c.       Penyakit jantng berat (MCI, gagal jantung berat dapat dilakukan bila didampingi oleh dokter spesialis jantung, peralatan yang lengkap)
d.      Penderita dalam keadaan syok, koma.
e.       Perforasi usus
f.       Gagal nafas berat
g.      Hamil trimester tiga
5.      Persiapan pasien
a.       Persiapan umum
a)      Persiapan psikologis
Memberikan penyuluhan atau bimbingan dan konseling keperawatan kepada pasien mengenai tujuan, prosedur, dan kemungkinan yang dapat terjadi agar pasien dapat membantu kelancaran pemeriksaan kolonoskopi antara lain dengan mengurangi atau menghilangkan rasa cemas dan takut, dimana pemeriksaan ini dilakukan dalam keadaan usus bersih dari tinja, sehingga perlu ditekankan pentingnya mematuhi persiapan.
b)      Persiapan administrasi
Mengisi surat pernyataan persetujuan tindakan (informed consent) ditandatangani oleh klien atau keluarga dan menjelaskan perihal pelaksanaan administrasi. Hal ini disesuaikan dengan peraturan masing-masing rumah sakit
b.      Persiapan khusus
a)      Jam 12.00 makan bubur kecap encer / 2 hari
b)      Jam 13.00 minum yang banyak
c)      Jam 17.00 makan bubur kecap encer
d)     Jam 19.00 minum yang banyak
e)      Jam 20.00 minum garam inggris / yal solution
f)       Jam 22.00 minum dulcolax 3 tablet
g)      Jam 24.00 minum yang banyak
h)      Jam 06.00 tidak makan tetapi harus minum yang banyak sampai tindakan.
6.      Persiapan alat
Ø  Monitor Tv
Ø  Procecor
Ø  Sumber cahaya (light source)
Ø  Printer, ribbon dan kertasnya
Ø  Kolon Fiberskop
Ø  Suction pump
Ø  Aquades
Ø  Celana bolong bagian belakang
Ø  Alas bokong
Ø  Forcep biopsy
Ø  Kertas biopsy (kertas saring)
Ø  Botol kecil bertutup berisi formalin 10 %
Ø  Bengkok
Ø  Kassa
Ø  Jeli pelumas skop
Ø  Pinset anatomis
Ø  Spuit 50 cc, 20 cc, 5 cc dan 3 cc
Ø  Sarung tangan steril
Ø  Sarung tangan no steril
Ø  Gunting perban
Ø  Plester
Ø  Kapas antiseptic
Ø  Tiang infus dan peralatan infus lengkap (sesuai kebutuhan)
Ø  Tensimeter dan stetoskop
Ø  Oksigen set
Ø  Pulse Oxymetri
Ø  Unit bedah listrik (elektro surgical unit)
Ø  Snar listrik dan assesoris lainnya
Ø  Unit perlengkapan laser
Ø  Masker sesuai kebutuhan
Ø  Jas dokter sesuai kebutuhan
Ø  Baju tindakan
Ø  Sepatu bot penutup kaki
Ø  Satu set peralatan cuci 3 baskom besar
Ø  Handuk kecil
Ø  Detergen
Ø  Desinfektan tingkat tinggi (DTT)
7.      Persiapan obat
a.       Perlengkapan infus
b.      Penenang (valium, diazepam, dormicum)
c.       Jelly
8.      Pelaksanaan
a.       Menjelaskan ulang kepada pasien/keluarga tentang kegiatan/tindakan yang akan dilakukan.
b.      Petugas memakai pengaman diri
c.       Menyiapkan pasien mengenakan celana khusus kolonoskopi (celana bolong bagian yang bolong ditempatkan di belakang)
d.      Memeriksa tanda-tanda vital
e.       Memasang infus
f.       Memasang oksigen
g.      Memasang oxymetri
h.      Pemberian sedasi sesuai dengan program (kolaborasi dengan dokter)
i.        Mengatur posisi pasien dengan posisi miring ke kiri dengan kaki di tekuk senyaman mungkin dan posisi selanjutnya tergantung pada saat melakukan prosedur yang nyaman (posisi bisa berubah-rubah)
j.        Menghubungkan skop dengan sumber cahaya dan suction
k.      Mengoles jelly pada ujung fiberskop dan lobang anus
l.        Fiberskop dimasukkan melalui anus, rectum, sigmoid, kolon desenden, flexura lienalis, kolon transversum, flexura hepatica, kolon asenden, sekum dan ileum terminale
m.    Selama tindakan berlangsung. Perawat mengobservasi tanda-tanda vital, tingkat kesadaran pasien, menjaga/mempertahankan posisi fiberskop pada posisi yang diperlukan, merubah posisi baring pasien sesuai kebutuhan dan mengamati ke monitor tv melaporkan pada dokter bila ada tanda-tanda yang mencurigakan.
n.      Setelah selesai dokter mengeluarkan fiberskop, perawat mengobservasi pasien
o.      Merapikan pasien dan alat
9.      Pasca tindakan
a.       Membersihkan dan merapikan pasien yang telah selesai menjalani tindakan kolonoskopi
b.      Memindahkan pasien ke ruang pemulihan
c.       Mengukur dan mencatat tanda-tanda vital : tensi, nadi, pernafasan, suhu diruang pemulihan
d.      Memeriksa tingkat kesadaran pasien dengan cara memanggil nama pasien, memberikan rangsangan, memeriksa reaksi pupil
e.       Mendokumentasikan reaksi pasien selama tindakan kolonoskopi
f.       Bila diberikan sedasi, pasien harus diobservasi diruang pemulihan sampai kesadaran pulih betul
g.      Pasien berobat jalan harus ada yang mendamping dan diberikan instruksi untuk langsung pulang dan tidak boleh membawa kendaraan sendiri atau mengoperasikan mesin
h.      Bila pasien datang tanpa didampingi oleh keluarga usahakan tidak memakai sedasi atau ditahan lebih lama sampai memungkinkan untuk pulang sendiri
i.        Bila terjadi perdarahan hebat dianjurkan menghubungi perawat secepatnya
j.        Melakukan serah terima dengan perawat ruang rawat inap
k.      Membersihkan dan membereskan alat
l.        Membuat jadwal pemeriksaan ulang (bila diperlukan, terutama pasien yang mendapatkan tindakan terapy kolonoskopi)
C.    ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography)
1.      Pengerti
Endoskopi Retrograde Cholangio Pancreatography (ERCP) merupakan suatu perpaduan antara pemeriksaan endoskopi dan radiologi untuk mendapatkan anatomi dari system traktus biliaris (kolangiogram) dan sekaligus duktus pankreatikus (pancreatogram)
ERCP adalah suatu pemeriksaan dari saluran pankreas dan saluran empedu dengan menyuntikkan zat kontras setelah melakukan kanulasi papilla vateri dengan kateter melalui duodenoskop optik samping dan dilakukan bersama dengan alat radiologi untuk monitor
2.      Tujuan
a.       Untuk diagnostic
b.      Untuk terapeutik
3.      Indikasi
a.       Ikterus dengan penemuan ultrasonoograf (USG) normal, tetapi ada dugaan keras obstruksi atau USG tidak konklusif serta tidak dpat memberikan informasi yang diperlukan untuk terapi adekuat
b.      Nyeri pasca kolesistektomi
c.       Pancreatitis tanpa sebab yang jelas
4.      Kontra indikasi
a.       Semua kontra indikasi endoskopi SCBA
b.      Riwayat alergi kontras yodium
5.      Persiapan pasien
a.       Puasa 6 – 8 jam sebelum tindakan
b.      Pasang infuse beserta three way dengan cairan RL pada lengan kiri
c.       Pasien diantar dengan branchart berserta oksingen
6.      Pasca tindakan
a.       Memindahkan pasien dari meja radiologi ke tempat tidur pasien
b.      Mengobservasi tanda-tanda vital, muntah dan tingkat kesadaran
c.       Serah terima pasien kepada perawat ruangan setelah keadaan umum pasien memungkinkan
d.      Menyampaikan program dokter kepada perawat ruangan
e.       Pasien dipuasakan 4 jam pertama setelah tindakan ERCP
f.       Pasien diberi diit lunak setelah pasien sadar betul, sudah flatus dan tidak ditemukan faktor-faktor penyulit (mual, kembung, muntah dan reflek menelan sudah baik)

m.     Membersihkan dan membereskan alat

Tidak ada komentar: